Lanjut ke konten

Macam-macam Majas

6 Maret 2010

Dalam penggunaan bahasa, untuk berbagai keperluan, baik lisan maupun tulisan, baik resmi maupun tidak resmi, kita sering menggunakan atau menemukan penggunaan majas. Penggunaan majas tersebut salah satunya untuk mengungkapkan suatu maksud. Berikut uraian majas-majas yang lazim digunakan.

1. Litotes

Majas yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri. Sesuatu hal dinyatakan kurang dari keadaan sebenarnya atau suatu pikiran dinyatakan dengan menyangkal lawan katanya. Contoh:

  • Kedudukan saya ini tidak ada artinya sama sekali
  • Apa yang kami hadiahkan ini sebenarnya tidak ada artinya sama sekali bagimu

2. Paradoks

Majas yang mengandung pertentangan nyata dengan fakta-fakta yang ada. Paradoks dapat juga berarti semua hal yang menarik perhatian karena kebenarannya. Contoh:

  • Ia mati kelaparan di tengah-tengah kekayaan yang berlimpah-limpah.
  • Dina merasa kesepian di tengah-tengah keramaian kota.

3. Pleonasme

Majas ini mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yang diperlukan. Contoh:

  • Saya telah mendengar hal itu dengan telinga saya sendiri (mendengar sudah tentu dengan telinga)
  • Saya melihat kejadian itu dengan mata kepala saya sendiri (melihat sudah tentu dengan mata)

4. Elipsis

Majas ini berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca atau pendengar, sehingga struktur gramatikal atau kalimatnya memenuhi pola yang berlaku. Contoh:

  • Masihkah kau tidak percaya bahwa dari segi fisik engkau tak apa-apa, badanmu sehat; tetapi psikis …

5. Metonimia

Majas ini mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat. Contoh:

  • Pena lebih berbahaya dari pedang

6. Persamaan atau simile

Majas ini mengandung perbandingan yang bersifat eksplisit. Yang dimaksud dengan perbandingan yang bersifat eksplisit adalah langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain. Untuk itu, ia memerlukan upaya yang secara eksplisit menunjukkan kesamaan itu, yaitu kata-kata: seperti, sama, sebagai, bagaikan, laksana, dan sebagainya. Contoh:

  • Kikirnya seperti kepiting batu.
  • Mukanya merah laksana kepiting rebus.

7.Metafora

Majas ini semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat: bunga bangsa, buaya darat, buah hati, cindera mata, dan sebagainya. Makna sebuah metafora dibatasi oleh sebuah konteks. Contoh:

  • Perahu itu menggergaji ombak

8. Personifikasi

Majas kiasan yang menggambarkan benda-benda mati seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan. Personifikasi (penginsanan) merupakan suatu corak khusus dari metafora, yang mengiaskan benda-benda mati bertindak, berbuat, berbicara seperti manusia. Contoh:

  • Angin yang meraung di tengah malam yang gelap itu menambah lagi ketakutan kami
  • Kata-katanya tajam seperti mata pisau

9. Ironi atau sindiran

Majas ini ingin mengatakan sesuatu dengan makna atau maksud berlainan dari apa yang terkandung dalam rangkaian kata-katanya. Contoh:

  • Saya tahu Anda adalah seorang gadis yang paling cantik di dunia ini yang perlu mendapat tempat terhormat!
  • Kamu datang sangat tepat waktu, sudah 5 mobil tujuan kita melintas

10. Sinisme

Sinisme adalah sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati. Contoh:

  • Tidak diragukan lagi bahwa Andalah orangnya, sehingga semua kebijaksanaan terdahulu harus dibatalkan seluruhnya!

11. Sarkasme

Majas ini lebih kasar dari ironi dan sinisme. Majas sarkasme mengandung kepahitan dan celaan yang getir. Contoh:

  • Mulut harimau kau!
  • Lihat sang Raksasa itu! (maksudnya si Cebol)

12. Sinekdoke

Semacam bahasa figuratif yang mempergunakan sebagian dari sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan (pars pro toto) atau mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagian (totem pro parte). Contoh:

  • Setiap kepala dikenakan sumbangan sebesar Rp 1.000,00 (pars pro toto)
  • Pertandingan sepak bola antara Indonesia melawan Malaysia berakhir dengan kemenangan Indonesia (totem pro parte).

13. Hiperbola

Majas yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal. Contoh:

  • Kemarahanku sudah menjadi-jadi hingga hampir meledak kepalaku.
  • Sudilah tuan mampir di gubuk sederhana saya.

14. Eufimisme

Majas yang menyatakan sesuatu dengan ungkapan yang lebih halus. Contoh:

  • Untuk menjaga kesetabilan ekonomi, pemerintah menetapkan kebijakan penyesuaian harga BBM. (kenaikan harga)
  • Untuk mengatasi masalah keuangan, perusahaan itu merumahkan sebagian karyawannya. (mem-PHK)

15. Litotes

Majas yang menyatakan sesuatu lebih rendah dengan keadaan sebenarnya. Contoh:

  • Apalah artinya saya ini, sedikit yang bisa saya sumbangkan bagi generasi bangsaku.

16. Retoris

Majas ini berupa pertanyaan yang tidak menuntut suatu jawaban. Contoh:

  • Bukankah kita ini bangsa yang beragam adat, suku, dan budaya, mengapa hendak diseragamkan?
About these ads

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: