Lanjut ke konten

Lima Software Paling Sering Dibajak

15 Januari 2010

Komunitas anti pembajakan Business Software Aliance (BSA) melansir data tentang lima besar software yang paling disukai pembajak software di Indonesia. Seperti hasil dari banyak peneliti lain, Microsoft masih belum tertandingi untuk menduduki puncak software yang paling “digemari” para pembajak software di Imdonesia.

Menurut Kepala Perwakilan dan Juru Bicara BSA Donny Alamsyah Sheyoputra, memang wajar jika Microsoft sering ditemui dalam kasus yang diketahui BSA. Pasalnya, peranti lunak asal Amerika Serikat tersebut memang telah banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan dalam menjalankan aktifitas perkantoran saat menggunakan komputer.

Selain Microsoft yang paling sering dibajak oleh pengguna ilegal tersebut. Ada beberapa produk software buatan anggota BSA yang menjadi korban aksi pembajakan di Indonesia.

“Dari sekian banyak tersebut ada yang masuk lima besar yang sering dibajak selain Microsoft, yaitu Adobe, Symantec, Autodesk dan Corel,” tambahnya, saat konferensi pers, di Restoran Sindang Reret, Jakarta, Rabu (13/1/2010).

Ada yang mengejutkan dari temuan BSA, yaitu masuknya Autodesk dalam jajaran software yang sering dibajak.  Sebab, aplikasi ini merupakan software khusus yang hanya digunakan perusahaan-perusahaan tertentu saja, perusahaan yang lebih sering berhubungan dengan konstruksi.

“Memang Autodesk itu merupakan software yang segmentif, namun pada kenyatannya banyak perusahaan yang menggunakan software tersebut untuk membuat denah di perusahaan mereka,” tegas pria berkaca mata tersebut.

Sementara itu pemberantasan pembajakan software ilegal di Indonesia dinilai pihak kepolisian sudah dilakukan secara maksimal. Menurut Kombes Pol Kanit I Indag Direktorat II Ekonomi Khusus Bareskrim Mabes Polri Tony Hermanto secara skala penanganan software masih kecil, karena masih kalah dengan kasus pembajakan optical disk.

“Dari segi penjualan kita bisa lihat, DVD bajakan mulai dari musik sampai dengan film selalu laku keras. Hasil razia kami saja, terdapat 32 industri dengan 200 mesin untuk membuat kepingan bajakan,” tegas Tony,.

Tony mengharapkan, kesadaran ini tidak hanya menjadi tanggung jawab polisi semata saja. Melainkan juga masyarakat dalam meningkatkan kesadaran untuk membeli produk yang asli, serta memantau semua perkara yang masuk hingga ke pengadilan.

Masih menggunakan software bajakan? Indonesia Go Open Source

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: