Skip to content

Faktor dari Luar Penyebab Perubahan Sosial

2 Januari 2010

1)Pengaruh kebudayaan

Hubungan atau kontak secara fisik antara satu masyarakat (budaya) dengan masyarakat (budaya) lainnya cenderung dapat menyebabkan terjadinya saling memengaruhi di antara masing-masing masyarakat atau kebudayaan tersebut. Artinya, suatu masyarakat (budaya) itu bisa memengaruhi masyarakat (budaya) lainnya, namun sekaligus juga dapat terkena (mau menerima) pengaruh dari masyarakat (budaya) lainnya itu. Namun apabila hubungan atau kontak tersebut dilakukan secara tidak langsung, misalnya melalui alat-alat komunikasi massa seperti radio, televisi, film, koran, dan lain-lain, maka komunikasinya cenderung bersifat satu arah saja, yaitu dari masyarakat yang secara aktif menggunakan alat-alat komunikasi tersebut, sedangkan pihak lain (yakni masyarakat penerima) tidak memiliki kesempatan untuk memberikan pengaruhnya. Apabila pengaruh tersebut diterima tidak karena paksaan dari pihak yang mempengaruhi, maka hasilnya di dalam ilmu ekonomi dinamakan demonstration effect. Sedangkan proses penerimaan pengaruhnya, di dalam ilmu antropologi budaya dinamakan akulturasi.

Adakalanya juga, bahwa dalam proses pertemuan kebudayaan tersebut, tidak terjadi pengaruh sama sekali (baik satu arah ataupun dua arah). Pada pertemuan kedua kebudayaan yang tarafnya seimbang misalnya, kadangkala bisa saling menolak yang mungkin disebabkan karena pada masa lalunya pernah saling terjadi pertentangan fisik yang kemudian dilanjutkan dengan pertentangan non fisik antara kedua masyarakat pendukung masing-masing kebudayaan itu. Keadaan semacam itu dalam sosiologi antropologi dinamakan cultural animosity. Suatu cultural animosity hingga kini ada misalnya antara Surakarta dan Yogyakarta yang dapat dikembalikan pada kejadian-kejadian pada tahun 1755 (Perjanjian Gianti), dan kemudian Perjanjian Salatiga pada tahun 1757. Pertentangan fisik mengawali bentrokan antara kedua belah pihak yang kemudian dilanjutkan dengan pertentangan-pertentangan dalam segi-segi kehidupan lainnya. Walaupun kedua kebudayaan itu memiliki sumber dan dan dasar yang sama, yakni kebudayaan khusus (sub culture)

Jawa, namun terjadi pertentangan-pertentangan (perbedaan) misalnya dalam hal corak pakaian, tari-tarian, seni musik tradisional, gelar-gelar kebangsawanan, dan seterusnya.

Adanya pengaruh dari kebudayaan lain juga dapat menyebabkan terjadinya proses imitasi, yaitu tindakan seseorang untuk meniru orang lain melalui sikap, penampakan, gaya hidupnya atau apa saja yang dimilikinya. Biasanya yang lemah cenderung meniru yang dominan. Proses perubahan dengan cara imitasi, misalnya dapat terjadi apabila ada dua kebudayaan yang saling bertemu, sedangkan salah satu dari kebudayaan tersebut memiliki unsur-unsur yang lebih tinggi (misalnya dalam aspek teknologinya), maka ada kemung-kinan terjadi proses imitasi (peniruan) dari para pendukung kebudayaan yang masih rendah taraf teknologi-nya. Adapun prosesnya, mula-mula unsur-unsur tersebut ditambahkan pada kebudayaannya, akan tetapi lambat laun unsur-unsur kebudayaan mereka yang dirubah dan diganti dengan unsur-unsur kebudayaan asing tersebut. Misalnya, pada saat ini orang-orang Indonesia cenderung untuk memakai pakaian yang bercorak barat, karena dianggap lebih mudah dan praktis. Sedangkan memakai pakaian tradisionalnya jarang sekali, kecuali hanya pada kesempatan-kesempatan tertentu misalnya pada saat upacara-upacara resmi seperti resepsi perkawinan, khitanan, dan lain-lain.

2)Terjadinya Peperangan

Peperangan yang terjadi antara negara (masyarakat) satu dengan negara (masyarakat) lainnya juga dapat menimbulkan berbagai dampak seperti halnya dampak yang ditimbulkan oleh adanya penberontakan dan pertentangan-pertentangan. Akan tetapi dampak negatif yang ditimbulkan oleh adanya peperangan jauh lebih dahsyat, karena peralatan perang biasanya juga lebih canggih.

Selain perubahan di bidang sosial, peperangan dengan negara (masyarakat) lain dapat pula menyebabkan terjadinya perubahan di bidang kebudayaan, hal ini oleh karena biasanya negara yang menang akan memaksakan kepada negara yang kalah, untuk menerima kebudayaannya yang dianggap lebih tinggi tarafnya. Negara-negara yang kalah perang dalam Perang Dunia II seperti Jerman dan Jepang (Blok Poros/As), harus menerima ide-ide yang dipaksakan dari negara-negara pemenang (Blok Sekutu), sehingga mengalami perubahan-perubahan besar pada masyarakatnya. Jerman misalnya, telah mengalami perubahan-perubahan besar menyangkut bidang kenegaraan, yakni dipecah-nya negara tersebut menjadi dua yaitu Jerman Barat dan Jerman Timur (komunis), sebelum akhirnya berhasil dipersatukan kembali menjelang runtuhnya komunisme tahun 1990. Hal tersebut tidak saja mengakibatkan perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di bidang politik dan pemerintahan, akan tetapi juga di bidang-bidang lainnya seperti ekonomi dan militer. Sedangkan di timur, Jepang setelah kalah perang juga mengalami perubahan-perubahan, di mana berkat campur tangan Amerika Serikat Jepang secara berangsur-angsur berubah dari negara agraris-militer ke negara industri yang cukup disegani. Perubahan-perubahan yang demikian juga terjadi di Vietnam, Kamboja, Korea, dan lain-lain.

3)Pengaruh Perubahan Lingkungan Alam

Perubahan sosial budaya dapat juga terjadi karena penyebab alam, seperti gempa bumi, tanah longsor, banjir besar, angin taufan, dan lain-lain. Peristiwa-peristiwa alam semacam itu mungkin dapat menyebabkan bahwa masyarakat-masyarakat yang mendiami daerah-daerah tersebut terpaksa harus meninggalkan tempat tinggalnya. Apabila masyarakat tersebut mendiami tempat tinggal yang baru, maka mereka harus menyesuaikan diri dengan keadaan alam yang baru pula. Dengan kejadian semacam itu, kemungkinan akan mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatannya. Misalnya masyarakat petani yang terkena musibah banjir besar, kemudian mereka harus pindah ke suatu daerah yang tidak memungkinkan bagi adanya kegiatan pertanian, maka terpaksa harus menyesuaikan mata pencahariannya menjadi seorang nelayan. Sementara masyarakat di daerah kota yang dilanda dan harus diungsikan ke suatu tempat yang lebih aman, misalnya di daerah transmigrasi, maka harus menyesuaikan kehidupannya, yakni dari kebiasaan hidup di daerah berpenduduk rapat dan ramai kepada kebiasaan hidup di alam pedesaan yang sunyi di daerah transmigrasi. Kejadian-kejadian semacam itu jelas akan mengakibatkan perubahan-perubahan dalam diri masyarakat tadi, misalnya timbul lembaga-lembaga kemasyarakatan baru seperti pertanian, perkebunan, dan lain-lain.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: