Lanjut ke konten

Kurap, Kutil, Kudis Musuh Pengusaha

30 Desember 2009
tags:

Kurap, kutu dan kudis adalah jenis penyakit kulit yang mengganggu kesehatan dan penampilan seseorang. Bagaimana bila kura, kutil, dan kudis menyerang pengusaha? Dampaknya akan lebih fatal, mematikan. Bukan mematikan si pengusaha, melainkan usaha yang dijalankan.

Kurap, kutil, dan kudis dalam konteks pengusaha bukan penyakit kulit melainkan “penyakit” yang sering menyerang pengusaha. Kurap adalah singkatan dari kurang pengalaman, kutil adalah kurang terampil, dan kudis adalah kurang disiplin. Istilah ini diperkenalkan Ketua Asosiasi Pengusaha Mebel Indonesia (Asmindo) Komisariat Daerah Surakarta J.B. Susanto, senin(21/5).

“Penyakit lain yang juga kerap menghingapi pengusaha adalah tuli (satu pembeli), mencret (menjual secara ceroboh dan teledor), campak (campuran antaqra usaha dan keluarga), batuk (barang tunggal dan ketinggalan), dan kanser (kantung kering).

Segala penyakit ini bisa diobati, antara lain dengan pelatihan. Oleh karena itu, diselenggarakan pelatihan competence based economics throught of enterprize (CEFE) kepada perajin mebel rotan dan wirausaha baru disentra mebel rotan di Trangan, Gatak, Sukoharjo, hingga 8 Juni.

Pelatihan yang digagas German Technical Cooperation-Regional Economic Development (GTZ-RED) bersama Kantor bank Indonesia(KBI) Semarang, KBI SOlo, Bank Bukopin SOlo, Asmindo Solo, dan PEAC Borobudur ini, menurut Technical Advisor RED Hayder Al Bagdadi, bertujuan untuk membangun UMKM, penyedia tenaga kerja, peningkatan omzet, dan pertumbuhan ekonomi.

Pelatihan yang bertempat di ruang pamer PT Kharisma Rotan Mandiri ini terasa semarak dengan kehadiran pelatih Ed Canella dari Filipina. Dengan bersemangat pelatih yang berpenampilan ceria dengan warna merah bunga-bunga dan memakai kruk ini memberi inspirasi tersendiri bagi 25 peserta. Sebelum itu, Canella memberi pelatiham serupa dengan 60 kali kesempatan di NAD dan mampu menghasilkan 3000 pengusaha baru.

Pelatih itu, menurut Pemimpin KBI Semarang Amni Arif, hendaknya dipandang sebagai investasi. Pengusaha diharapkan memberi keqsempatan pekerjanya untuk ikut berbagai pelatihn karena hasilnya toh akan dirasakan oleh si pengusaha.

CEFE yang dikembangkan GTZ sejak 15 tahun lalu telah digunakan di 100 negara. Hasilnya, 98 persen peserta dapat meningkatkan omzetnya hingga 30 persen dan45 persen peserta potensial berhasil menjadi pengusaha sukses. Hasil serupa diharapkan muncul di Trangsan dengan harapan mendongkrak sektor riil.

Sumber : Kompas, 26 Mei 2007

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: