Skip to content

Bahasa yang Taksa dan Samar-samar

30 Desember 2009
tags:

Oleh Dr.R. Kunjana Rahardi

Perlu dijelaskan bahwa sebagai apparatus komunikasi, bahasa memiliki rupa-rupa keterbatasan dan ketidak sempurnaan. Banyak kekuranglengkapan yang melekat erat (inheren) didalam sosok bahasa itu sendiri, yang pada gilirannya yang justru dapat mencuatkan aneka kesalahpahaman. Sebab pertama dari kekuranglengkapan dan kekurangsempurnan bahasa adalah ihwal penandaan atau penyimbolan unsur-unsur kebahasaan. Penandaan komponen-komponen bahasa tersebut lazimnya dilakukan baik secara konvensional maupun inkonvensional.

Penyimbolan secara konvensional dilaksanakan atas dasar kesepahaman dan kesepakatan bersama diantara sesama warga pemakai bahasa dalam sebuah masyarakat bahasa. Karena dasar utamanya adalah kesepakatan dan konvensi, maka lazimnya hasil pnyimbolan yang demikian itu tidak banyak menghadirkan persoalan. Ambilah contoh kata Jawa segawon yang dalam bahasa Indonesia anjing. Dan dalam bahasa Inggris dog. Penamaan terhadap sosok binatang piaraan yang buas, dan sukanya meraung-raung keras itu dilakukan secara konvensional. Karena simbol tersebut muncul dalam kesepakatan atau kesepahaman bersama, tidak ditemukan persoalan pemakaian unsur kebahasaan tersebut didalam praktek komunikasi.

Pentimbolan yang kedua dilakukan secara arbitrer. Artinya satuan lingual tertentu digunakan untuk menyimboli sesuatu entitas di alam raya ini secara semena-mena dan tidak selalu jelas alasan dan indentifikasinya. Karena itu, simbolisasi yang demikian rentan terhadap kesamaran dan ketaksaan. Sejunlah pakar bahkan secara jelas menyebutkan kesamaran dan ketaksaan tersebut sesungguhnya merupakan sifat kebahsaan melekat, sebagai akibat yang tidak terhindarkan lagi dari simbolisasi arbitrer itu.

(dikutip dari Media Indonseia, Sabtu, 31 Mei 2003 dengan perubahan seperlunya)

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: