Skip to content

Memahami Filter Digital

26 Desember 2009

Didalam komunitas fotografi manapun selalu ada orang yang disebut “purist”. Mereka ini tidak menyukai olah digital sama sekali walau telah hidup di era digital. Bagi kaum purist, proses pembuatan sebuah photo harus usai saat rana selesai dijepretkan. Foto yang diolah setelah pemotretan bukanlah fotografi dimata kelompok ini.

Sebenarnya ada berbagai pengolahan dengan berbagai cara didalam badan kamera manapun. Untuk membuktikannya kita bisa memotret sebuah pemandangan dengan berbagai merek kamera dengan setting yang sama persis. Perhatikan hasilnya. Setiap kamera akan menghasilkan hasil yang berbeda, baik dalam kotras maupun nada warnanya. Sebenarnya setiap kamea tersebut telah mengandung pengaturan khas yang berbeda satu sama lainnya. Tidak pernah ada foto yang murni karya sang fotografer, selalu ada camour tangan arsitek kamera. Itulah sebabnya mengapa fotografer profesional tidak ada yang mau menggunakan merek yang terkenal.

Olah kimia

Lantas bagaimana dalam teknologi sebelum digital, apakah sama saja ?. Tidak pernah ada foto yang murni atau asli. Sejak memilih merk film pun kita sudah terlibat dengan rekayasa kimia dalam pembuatan filmnya. Anda menggunakan negatif film maupun memakai film slide akan menghasilkan foto yang jauh berbeda. mana yang asli?

Kemudian, dari sebuah lembar film negatif, kalu dicetak di beberapa tempat percetakan, akan dihasilkan pula beraneka ragam hasil cetakan. Tidak ada yang persis sama. Peran operator dan mutu kertas sangat mempengaruhi hasil. Sekali lagi, mana yang bisa disebut asli?

Mari kita kembali ke fotografi digital yang sedang kita hadapi saat ini. Mengolah hasil foto digital sebenarnya dapat dibedakan menjadi dua hal,yaotu menyempurnakan dan mengolah dengan ekstrem.

Menyempurnakan foto dengan perangkat digital adalah hal wajib agar sebuah foto tampil maksimal. Kalau dibuat pemisalan pada pembuatan sebuah patung, mengolah digital adalah sekadar mengampelas, bukan membuat pahatan baru.

Adapun olah digital yang ekstrem kadang bahkan menghasilkan bagian foto yang sama sekali tidak dibuat dari proses pemotretan.

orang-orang yang anti olah digital kadang mencampur adukkan kedua hal itu. Orang-orang kelompok ini biasanya belum menguasai pengolahan digital sama sekali. Tak kenal maka menolak.

pemisalan lain dari pengolahan digital bisa diambil dari proses jurnalistik. Tulisan yang dibuat wartawan pemula tentu membuat pusing pembaca koran kalau dicetak apa adanya. Itulah sebabnya diperlukan editor untuk menyempurnakan tulisan itu.

Filter digital

Saat ini, beberapa merek kamera sudah memasan pengolah digital tertentu di badan kamera mereka. Perangkat baru in membuat seorang fotografer bisa memilih efek seperti apa yang diinginkan dari hasilnya memotret. Dalam perangkat yang bisa disebut filter digital ini foto telah diolah sebelum rana dijepretkan.

Kini bahkan filter digital bisa menghasilkan efek-efek yang bahkan sulit ditiru dengan pengolah pemotretan pasca pemotretan. Kamera-kamera yang akan dijadikan contoh tulisan ini adalah kamera-kamera digital yang telah mengandung filter digital dipasaran saat ini.

Olympus menamakan filter digitalnya dengan Art Filter . Salah satu Art Filter yang dimiliki Olympus E30 adalah Grainy FIlm yang membuat hasil foto mirip dengan pemotretan menggunakan film hitam putih ISO 3200 atau ISO 800 yang di push ke ISO 6400. efek “berpasir” ini mungkin hanya disukai mantan pemakai film. Generasi yang mulai kenal fotografi sejak jaman digital umumnya hanya suka foto-foto yang halus dan ber-“grain”.

Pop Art Olympus

Secara total, Olympus E30 memounyai enam filter digital, yaitu

  • Pop Art yang membuat warna-warna tampil lebih “saturated”,
  • Soft Focus yang membuat foto tampil lembut seakan berkabut tipis
  • Pale and Light Color
  • Grainy Film
  • Pin Hole yang hasilnya mirip dengan yang dihasilkan kamera lubang jarum.

Adapun Pentax KM memasukkan 12 fungsi eilter digital di badan kameranya. Ke-12 filter digital itu adalah

  • Toy Camera yang menghasilkan foto mirip yang dihasilkan kamera Lomo
  • High Contrast untuk foto kontas tinggi
  • Soft untuk foto lembut
  • Star Bust untuk foto pemandangan malam dengan titik cahaya berpendar seperti bintang
  • Retro yang menghasilkan foto seakan foto kuno
  • Extract Color yang membuat foto sebagian hitam putih
  • Illustration yang membuat foto seakan lukisan
  • HDR yang membuat foto seakan dari proses high dinamic range
  • BW yang menghitam putihkan foto
  • Sepia yang menghasilkan foto kecoklatan
  • Color yang seakan memasang filter warna didepan lensa
  • Slim yang dapat mengubah rasio panjang lebar foto yang dihasilkan

Hitam putih sebagian

Kini bahkan kamera seperti Canon G10 pun sudah memiliki filter digital dengan nama Color Accent. Fungsi dari filter ini adalah mempertahankan warna tertentu dan membuat warna lain menjadi grayscale. Pemotret memilih dulu warna yang ingin “dipertahankan”.

Dunia fotografi memang sudah memasuki era digital dan hampir tidak mungkin kembali ke era kimia. Para fotografer hendaknya menyikapi perkembangan-perkembangan digital dengan arif serta mampu memanfaatkannya untuk makin kreatif untuk berkarya.

Dunia digital penuh kemudahan. namun, kalu kita mampu memakai kemudahan itu dengan baik dan benar, kita akan jadi makin kreatif. Kemudahan itu ibarat pisau. Ditangan penjahat akan menjadi berbahaya, tetapi tanpa pisau seorang tukang sate tidak bisa berjualan.

Filter digital hayalah sebuah alat. Janganlah dia dimusuhi. Manfaatkanlah filterdigital untuk kemudahan aktifitas kita.

pustaka : Kompas, Selasa 14 Juli 2009 dan artikel lain dari internet yang relefan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: