Skip to content

Lawan Cyber Porn

21 November 2009
tags:

Diskusi mengenai pornografi kembali hangat di perbincangkan di beberapa forum internet. Bukan hanya mengenai materi (konten) pornografinya, melainkan juga begitu beratnya ancaman hukuman bagi mereka yang menyebarluaskan informasi terkait dengan pelanggaran kesusilaan (asusila). Mereka yang terbukti bersalah menyebarluaskan konten-konten terlarang tersebut dapat dipidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)/Pasal 27 ayat 1, berdasarkan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Masih kurang?

Konten pornografi memang bisa disaring di dunia cyber, tetapi apakah hal ini sudah efektif?  banyak yang menyangsikan hal ini. Beberapa hal yang menjadi penyebab keraguan tersebut tidaklah melulu soal kecanggihan piranti lunak yang diciptakan. Siapapun memang bisa mengunduh dan menginstal berlapis piranti lunak yang berfungsi memblok atau menyaring konten pornografi dari Internet pada PC mereka, bahkan hal ini pun dapat dilakukan oleh server pada warnet hingga penyedia jasa internet atau Internet Service Provider (ISP) sekalipun. Tetapi cukupkah kita percaya bahwa konten pornografi di Internet dapat efektif dihalau hanya dengan melakukan pemblokiran ataupun penyaringan secara teknologi?.

Berdasarkan sebuah hasil riset yang dilansir oleh TopTenReviews, setiap detiknya lebih dari 28 ribu orang yang mengakses pornografi di Internet dengan total pengeluaran mencapai lebih dari US$ 3 ribu. Data tersebut juga menyebutkan setidaknya tiap detik ada 372 pengguna Internet yang mengetikkan kata kunci tertentu di situs pencari untuk mencari konten pornografi.

Fakta yang nyata bahwa masalah pornografi adalah topik nomor 1 (satu) yang banyak dicari orang lewat Internet, menurut penelitian dari Sexual Recovery Institute. Studi lain juga menunjukkan bahwa 60% kunjungan di internet adalah menuju ke situs porno (MSNBC/Stanfford/Duquesne). Hasil survey tersebut menunjukkan betapa banyaknya yang terjangkit “demam” pornografi melalui internet. Hal yang hampir mustahil untuk memblokir 420 juta situs tersebut hanya dengan menggunakan Pasal 27 ayat 1 ITE. Makin banyak cara untuk menyebarluaskan materi pornografi dengan menggunakan internet selain daripada melakukan pemblokiran atas situs-situs pornografi misalkan saja dengan komunikasi secara peer to peer serta sosialisasi tentang dampak buruk dari pornografi tersebut. (beberapa pernyataan dan konten dikutip dari ictwatch.com)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: