Lanjut ke konten

Seni sastra masyarakat suku bangsa Jawa

20 November 2009
tags:

Seni kesusastraan Jawa sangatlah beragam dan cukup kompleks. Masyarakat Jawa mengenal adanya stratifikasi sosial dalam menggunakan bahasa lisan maupun tulisan, yaitu sebagai berikut.

  1. Bahasa ngoko, digunakan antara orang yang sesama derajatnya.
  2. Bahasa kromo, digunakan terhadap orang yang lebih tua.
  3. Bahasa kromo inggil, digunakan kepada orang yang sangat dihormati.

Pemakaian bahasa yang tidak pada tempatnya akan mendatangkan celaan dan dianggap sebagai orang yang tidak mengenal sopan santun atau tata krama.

Huruf Jawa merupakan hasil karya sastra asli dari bangsa Jawa. Huruf Jawa terdiri atas dua puluh suku kata, yaitu:

ha – na – ca – ra – ka
da – ta – sa – wa – la
pa – dha – ja – ya – nya
ma – ga – ba – tha – nga

Sastra Jawa mencakup bentuk puisi yang disebut geguritan, dan bentuk prosa, yang berisi cerita rakyat maupun mitos dan legenda. Misalnya cerita tentang kepahlawanan Jaka Tingkir, cerita fabel tentang Kancil, cerita legenda tentang keberadaan Nyi Roro Kidul sebagai penguasa Ratu Laut Selatan Jawa.

Di samping itu di dalam sastra Jawa dikenal kitab-kitab yang disebut primbon. Kitab primbon berisi perhitungan hari baik, astrologi Jawa, dan makna mimpi yang dalam kehidupan masyarakat tradisional Jawa masih sangat dipegang teguh sampai sekarang. Kitab ini juga digunakan sebagai pedoman terutama, jika hendak mengadakan hajatan besar, misalnya perkawinan.

Dalam upaya mengangkat sastra daerah, khususnya sastra Jawa, pemerintah berupaya memasukkan pelajaran bahasa Jawa sebagai salah satu pelajaran muatan lokal yang wajib diberikan kepada siswa di tingkat SD sampai SMP.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: